ArtikelPendidikan

Wanita dan Dunia

Wanita yang sering kali dianggap lemah dari berbagai segi kehidupan, mampu menimbulkan polemik yang berkelanjutan meski mempunyai konotasi inferior atau identik dengan kelamah lembutan, ayu serta tak memiliki wewenang. Anggapan ini menjadikan wanita tidak dilibatkan dalam sektor kehidupan yang rumit. Sektor kehidupan pemerintahan, peperangan, ekonomi, politik dan juga pembangunan dianggap sensitif dan hanya kalangan tertentu yang mampu memasuki sektor kehidupan yang rumit itu.

Nyatanya, ada wanita yang sudah terlibat dalam berbagai fenomena. Sebut saja Raden Ajeng Kartini yang dijadikan icon kemajuan wanita Indonesia. Wanita yang dikenalan dengan karya sastra, hubungan surat menyurat, pergaulan dengan bangsa Belanda. Kemudian kehebatan Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan juga sepatunya menjadi panutan. Dengan kepintarannya dan juga aktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta menampik usaha-usaha Belanda untuk menepatkan diri di daerah Aceh perlu mendapatkan apresiasi serta icon wanita pejuang. Kontribusi Malala Yousafzai dalam menyuarakan hak wanita untuk mendapatkan pendidikan dan peran di ruang publik. Kemunculannya mampu menggeser stereotipe negatif dunia barat terhadap Islam dalam memperlakukan wanita. Ini pun menjadi fenomena yang menarik untuk dibincangkan.

Keterlibatan wanita yang semakin besar disektor publik, tentu sebuah kemajuan pemahaman perbedaan gender. Hanya saja globalisasi membawa konsenkuensi terhadap kehidupan wanita. Kecendrungan eksis diruang publik mampu mendatangkan ancaman terhadap mereka. Posisi yang seharusnya berperan di sektor domestik kini menyentuh ke sektor internasional. Keseimbangan antar sektor domestik dan publik dunia menjadi sulit, manakala globalisasi mengiring mereka keranah dunia konspirasi, dunia yang sering memperdayakan dan berencana berkuasa atau mempengaruhi sebagai alternatif dalam mencapai tujuan yang dirancang.

Kaum wanita mempunyai hak serta memiliki posisi yang sama, mendapat pendidikan yang setara, mendapatkan karir atau bekerja juga menentukan tujuan hidupnya sendiri. Wanita seperti Hillary Diane Rodham adalah wanita yang berada dalam pusaran politik Amerika Serikat, memiliki jabatan sebagai senator junior. Kemudian Illiza Sa’aduddin menjadi walikota banda Aceh definitif dalam rapat paripurna istimewa DPRK setempat, dan menjadikan Aceh memiliki walikota wanita pertama kalinya.

Keterlibatan wanita dalam sektor kehidupan yang rumit tidak bisa dibatasi atas perbedaan biologis, melainkan oleh faktor sosial budaya. Sebagai hasil dari bentukan sosial budaya, peran wanita dapat berubah dalam waktu tertentu, tempat, kondisi yang berbeda sehingga peran wanita dapat dilibatkan.

Sikap atas keterlibatan wanita perlu dilakukan secara berkelanjutan dan mendalam. Kodrat sebagai wanita memiliki hak yang sama, tidak memiliki peran dan tugas yang berbeda. Wanita mehendaki kesetaraan yang harus direspon bijak, para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.

Similar Posts