ArtikelPendidikan

IJTIHADI DAUD RASYID DALAM DISERTASI

DR. H. DAUD RASYID MA

Firdaus Fadhli

Firdausfadhli1994@gmail.com

Abstrak

Studi hadis di Indonesia menujukkan adanya pendakatan yang dikembangkan secara sosial histori di Indonesia. Para cendikiawan muslim berupaya memahami hadis dari segi sanadnya sehingga pengkajian hadis hanya sebatas pengantar. Dalam menghadapi tantangan di lingkungan masyarakat tidak cukup dengan memahami hadis secara historis. Sebagai kaum akademisi Daud Rasyid berupaya menjawab tantangan dalam masyarajat melalui karya Disertasi dengan kebebasan berfikir atau ijtihad. Dengan ijtihadi Daud Rasyid berupaya menghadapi fenomena sosial dengan menganalisis serta berpatisipasi dalam pembaruan studi hadis yang bersifat kritis.

Kata Kunci: Daud Rasyid, disertasi, kritis

  1. PENDAHULUAN

Studi ilmiah Islam tentang pemikiran intelektual hadis di Indonesia ini menunjukkan perkembangan yang masih minim. Hal ini disebabkan karena kurangnya cendikiawan ijtihadi muslim Indonesia. Pada zaman dahulu, fenomena sosial dijawab dengan wa Allah A’lam sebagian ulama sudah merasa puas dengan menyatakan Allah yang mengetahui maksud-Nya. Namun problem sosial semakin kompleks seperti sekarang ini.

Hadirnya lembaga pendidikan Islam memberikan peluang untuk melaksanakan ijtihadi. Peluang yang dapat ditempuh hingga jenjang S3 atau doktoral memudahkan para cendikiawan muslim dalam melaksanakan kewajiban terhadap agama terlebih menuntut ilmu agama yang hukumnya adalah fadhu ‘ian.

Dari beberapa cendikiawan muslim yang menunjukkan kontribusinya ialah Daud Rasyid di bidang hadis. Sosok ini kental dengan pemikir tekstualis dan kritis dalam menjawab fenomena di Indonesia khususnya. Oleh karena itu, artikel ini mencoba menguraikan tokoh muslim Indonesia tersebut, dalam melaksanakan ijtihadi di nusantara.

  • PROFIL DAUD RASYID

Daud Rasyid lahir di Tanjung Balai, sebuah kota kecil yang berada di pesisir pantai pulau Sumatera bagian Utara pada hari Senin tanggal 3 Desember 1962 Masehi bertepatan dengan tanggal 5 Rajab 1382 Hijriyah.

Sebagai anak tunggal dari alm. Bapak Harun Al-Rasyid dan alm. Ibu Hajjah Nurul Huda, Daud Rasyid menghabiskan belajar pagi hingga malam di sekolah formal dan belajar kepada ustaz pada malah harinya. Di usia 18 tahun, ia mulai merantau ke kota Medan untuk melanjutkan pendidikan di IAIN Medan dan USU Medan hingga tahun 1983. Memasuki tahun keempat, ia mendapatkan  beasiswa ke Al-azhar melalui jalur Departmen Agama.

Ketika mengikuti tes beasiswa ke Al-azhar, Daud Rasyid memperoleh peringkat pertama dalam seleksi beasiswa. Pada tahun 1984 beliau belajar di Fakultas Syari’ah wa al-Qanun Universitas al-Azhar, Kairo hingga menyelesaikan studi pada tahun 1987. Di tahun selanjutnya Daud Rasyid melanjutkan Program Pascasarjana di Fakultas Darul Ulum (Studi Islam dan Arab) Universitas Kairo, Jurusan Syari’ah dan lulus Master (M.A.) dalam bidang syari’ah dengan yudisium: cum laude. Judul tesis Daud Rasyid “Marwiyyat al-Hakam ibn Utaibah wa Fiqhuhu” atau dalam bahasa Indonesianya; Hadis-hadis Riwayat Imam al-Hakam ibn Utaibah dan Metodologi Fikihnya. Pada tahun 1994 Daud Rasyid kembali melanjutkan pendidikan di Mesir dengan Program Doktor di Fakultas Darul Ulum, Universitas Kairo dan pada tahun 1996 ia meraih gelar Doktor (Ph.D.) dengan judul disertasi “Juhud ‘Ulama’ Indunisiya fi as-Sunnah” (Jasa-jasa Ulama Indonesia di bidang Sunnah).

Sebagai pakar hadis jebolan timur tengah, Daud Rasyid dikenal mempunyai pemikiran yang konservatif. Seperti buku yang berjudul as-Sunnah fi Indunisiyya: baina Ansariha wa Khusumiha, ia menentang pemikiran tokoh Harun Nasution dalam bidang sunnah.

  • BENTUK IJTIHADI DAUD RASYID DI INDONESIA

Dalam karya Daud Rasyid yang berjudul as-Sunnah fi Indunisiyya: baina Ansariha wa Khusumiha, beliau mencurahkan pemahamannya tentang fenomena-fenomena yang mengingkari ajaran Islam kedua tersebut. Berdasarkan pemikirannya di dalam disertasi merupakan ringkasan adanya indikasi pelencengan sunnah sebagai otoritas Islam yang kedua. Fenomena ini masih minim untuk diadakan penelitian.

Pelencengan sunnah Nabi adalah mayoritas, berbagai golongan menyerang sunnah dalam ajaran Islam. Tujuannya untuk menggoyak kepercayaan umat Islam terhadap sunnah. Otoritas Islam mustahil terealisasi tanpa adanya otoritas dari sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Menurut Daud Rasyid, perlu fenomena ini diangkat dalam sebuah penelitian guna meluruskan jika pelencengan dari nilai-nilai kebenaran. Penelitian ini juga merupakan bukti kebebasan berpikir dalam menjawab berbagai fenomena dan juga sebagai khazanah intelektual muslim di Indonesia.

Didalam lembaga pendidikan Daud Rasyid memenuhi karya tulis ilmiah resmi sebagai tugas akhirnya penyelesaian program S3. Hakikatnya beliau  dibebankan untuk mampu memahami berpikir, merasa, berkehendak, bersikap dan bertindak terhadap fenomena yang terjadi. Kegiatan berpikir yang dituangkan dalam bentuk karya ilmiah adalah bentuk demokrasi berfikir. Disertasi merupakan bukti kemampuan tokoh muslim tersebut dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan penemuan baru dalam program ilmu yang di pilihnya sebagai mahasiswa S3. Berfikir melahirkan pengetahuan yang benar itu pun juga berbeda-beda. Dengan kata lain, setiap jalan pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteria ini merupakan landasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut. Karena perbedaan kriteria, kebenaran ada yang bersifat subyektif dan ada yang bersifat obyektif. Keduanya dapat diperoleh melalui proses berpikir.[1]

Kebebasan berpikir tidak terikat oleh nilai-nilai tertentu dalam arti, apapun boleh dan tidak haram dipikirkan, bahkan dalam konteks mempertahankan eksistensi kebudayaan, kebebasan berpikir justru mutlak dibutuhkan bagi kebudayaan. Kebebasan berfikir atau pun pola pikir Daud Rasyid terbentuk dari gurunya Prof. Muhammad Boultagi Hasan, pakar Ushul Fiqh di Dar al-Ulum, Kairo serta dari Syekh Yusuf al-Qaradhawi yang kitab-kitabnya senantiasa diikuti oleh penerjemah.[2] Kebebasan berpikir dalam melakukan ijtihad merupakan sesuatu yang vital yang dilakukan Daud Rasyid dalam pengembangan kebudayaan Islam. Penutupan pintu ijtihad berarti awal kejatuhan kebudayaan Islam[3]

Perkembangan studi hadis di Indonesia dimulai pada abad ke 17, perkembangan kajian hadis sebatas praktis belum tersusun secara teoritis. Tokoh yang berperan dalam gerakan pembaruan Islam di antaranya Nuruddīn al-Raniri, Abd al-Ra’uf al-Sinkili, dan Muhammad Yusuf al-Maqassari. Ketiga ulama ini termasuk ulama yang berperan dalam mengembangkan kajian hadis[4]. Karakteristik karya hadis di Indonesia bersifat pengantar, dari pada pembahasan. Hal ini disebabkan informasi pokok dari hadis yang berkaitan.

 Pada abad ini tokoh Daud Rasyid berpatisipasi dalam gerakan penciptakan pembaruan terutama dalam studi hadis yang bersifat analisa atau kritis. Ini terjadi akibat kecenderungan kajian sejarah lebih dominan daripada kajian hadis yang sesungguhnya. Hingga mulailah rekonstruksi ilmu hadis dalam bidang pemahaman hadis (fiqh al-hadith).[5]

KESIMPULAN

Kebebasan dalam berpikir bagi kaum intelektual menjadi keuntungan dalam berijtihad. Di Indonesia kebebasan berfikir masih barang baru untuk kaji, terlebih anlasis terhadap sebuah hadis. Sebagai cendikiawan muslim yang mempelajari studi hadis, Daud Rasyid mengembangkan kajian hadis lebih kritis bukan lagi sebatas pengantar. Dalam karya ilmianya as-Sunnah fi Indunisiyya: baina Ansariha wa Khusumiha, kajian dan implemntasi pemahaman tentang analisis studi hadis Daud Rasyid mengkaji fenomena di Indonesia yang awalnya meneliti tentang sanad hadis namun Daud Rasyid lebih memperdalam lagi pembahasan ilmu hadis dari segi analisa dan kritis yang dihadapi. Dengan adanya analisa terhadap hadis memudahkan untuk menjawab tantangan yang sesuai dengan hakikat sebuah hadis.


[1] Hermeneia, “Hakikat Kebebasan Berpikir Dan Etika (Mengintip Ruang Bertemu dan Ruang Berpisah)” (Jurnal Kajian Islam Interdisipliner). 6(I), hlm. 162.

[2] Khoirdatul Mudhiiah, “Pemikiran Daud Rasyid Terhadap Upaya Ingkar Sunnah Kelompok Orientalis Di Indonesia” (ADDIN) 7(2). hlm 435.

[3] Hermeneia,…hlm.169.

[4] Hasep Saputra, “Genealogi Perkembangan Studi Hadis di Indonesia” (AL QUDS : Jurnal Studi Al Quran dan Hadis) 1(1). Hlm 58.

[5] Ibid…, hlm. 64.

Similar Posts