ArtikelGaya HidupPendidikan

Etika Komunikasi dan Cara Mengatasi Perbedaan Pandangan

Salah satu keunggulan manusia terhadap makhluk lainya ialah sifat pandai berbicara. Sifat tersebut Allah berikan semenjak terciptanya nabi Adam as. hingga zaman ini. Sebagai keturunannya, kita membutuhkan manusia lain untuk kelangsungan hidup, seperti yang telah dipraktekkan oleh nabiullah Adam as. terhadap Siti Hawa. ”Siapa engkau?”, tanya Adam. ”Seorang wanita”, Jawabnya. Adam bertanya lagi, ”Untuk apa engkau diciptakan?”. ”Agar engkau dapat merasa tenteram denganku”, Ia menjawab. Dan para malaikat bertanya kepada Adam, ”Siapa namanya, wahai Adam?”. Adam menjawab, ”Hawa”. ”Mengapa (disebut) Hawa?”, malaikat bertanya lagi. ”Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup”, jawab Adam. Kebutuhan akan relasi tentunya mampu menjalankan roda kehidupan manusia seutuhnya. Kebutuhan akan biologis seperti hidup serumah, membantu meyiapkan sandang-pangan bahkan diberikan hak untuk mengelola bumi ini yang luas seperti bercocok tanam, beternak dan menjalankan syariat Allah. Hingga hari ini jumlah manusia untuk mengelola bumi Allah mencapai 7 milyar jiwa. Disisi psikis, manusia selalu mengharapkan 3 (tiga) feedback yaitu; dihormati, dihargai, serta di cintai dalam kehidupan sosialnya. ­Feedback tersebut tentunya perlu dibangun secara horizontal (hablum minanas), melalui panca indera dangan di atur oleh otak serta hati manusia menglahirkan bahasa sebagai wadah untuk mencapai pemahaman/ kesepakatan bersama. Dalam kehidupan sosial, proses negosiasi dalam bentuk bahasa tersebut dapat dikatakan sebagai komunikasi, terlepas sebagai bahasa tubuh (komunikasi nonverbal), maupun lisan dan tulisan (komunikasi verbal), komunikasi memiliki nilai ukur dari aturan-aturan yang telah di tetapkan sebagai rujukan baik atau buruknya prilaku manusia tentu berkaitan dengan kebiasaan atau norma (aturan). Dalam Islam, prilaku baik atau prilaku buruk dikenal dengan kata akhlak (moral/etika).

            Akhlak atau dalam disipilin ilmu komunikasi terdapat dalam pembahasan Etika Komunikasi. Etika komunikasi dapat dipahami bahwa seseorang yang melakukan hubungan sesama manusia secara baik atau sesuai syariat Islam dikatakan beretika, sebaliknya jika perbuatan yang dilakukan tidak sesuai syariat Islam maka orang tersebut dikatakan tidak beretika.

            Dalam bermasyarakat, fitrah manusia ialah pandai berbicara[1], Islam mengatur tata cara berkomunikasi dengan baik. Dalam Al-qur’an kata berbicara dapat ditemui dengan kata kunci al-bayan. Sedangkan kata komunikasi dapat ditemui dengan kata kunci al-qaul. Diantara beberapa ayat Al-qur’an tentang komunikasi, terdapat enam prinsip komunikasi dalam konteks perintah yakni; qaulan sadidan (perkataan yang tepat dan benar) terdapat pada QS. 4:9 serta 33:70, qaulan balighan (perkataan yang berbekas di jiwa) QS. 4:63, qaulan mansyuran (perkataan yang mudah dipahami) terdapat pada QS. 17:28, qaulan layyinan (perkataan yang lemah-lembut) terdapat pada QS. 20:44, qaulan kariman (perkataan yang berharga/mulia) terdapat pada QS. 17:23, qaulan marufan (perkataan yang sopan-terhormat) terdapat pada QS. 4:5.

Salah satu cara berkomunikasi apabila terjadi perbedaan pandangan (tidak setuju) dengan lawan bicara, seperti alih-alih diklaim tidak mengahargai HAM sampaikan “saya menghargai kritikan”. Lainnya, petugas melaporkan kelangkaan sembako akibat wabah covid-19 di daerahnya dengan mengatakan “kasus kenaikan harga sembako akibat wabah covid-19” harusnya “harga sembako disesuaikan akibat wabah covid-19”. Atau komentar di sosial media, seperti “yang pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, malah positif. Terlalu parno sih!” baiknya ”Justru, yang udah ngelakuin protokol kesehatan aja masih bisa positif, apalagi yang enggak”, lainnya”kalau media enggak nakut-nakutin dan membesar-besarkan tentang covid, ya covid-nya enggak ada” bagusnya ”tugas media menyajikan realita. Kalau kondisinya terjadi lonjakan covid-19 yang membahayakan, masa kita diam aja?” selanjutnya, “yang penting, imun yang kuat.” kita bisa sampaikan “iya, kamu kuat, percaya… tapi ada orang yang enggak sekuat kamu”. atau curhatan teman. “A’isyah aja bisa poligami, masa kamu gak bisa” beri pengertian bahwa “aku tak sekuat A’isyah”. Alternatif jawaban diatas dapat digunakan untuk membatasi, tidak menyakiti, dan juga memberikan rasa hormat kepada lawan bicara atas pernyataan-pernyataan serupa dalam kehidupan sosial.


[1] Lihat QS 55:1-4;” Yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.”

Similar Posts