Artikel

DAYA KRITIS KEBENARAN TERHADAP FENOMENA WABAH VIRUS CORONA 2019: Studi Ilmu Filsafat

1. Wabah Virus Corona 2019 

Virus corona mulai muncul di negara Chin tepatnya di provinsi Wuhan,  menurut laporan dari WHO yang menetapkan status Global Emergency pada  kasus virus Corona ini dan pada tanggal 11 Februari 2020 istilah COVID-19 (Coronavirus-2019) di publikasikan. Sebuah fenomena perlu dipahami untuk apa  dan mengapa bisa terjadi. Apakah ada konsep kebenaran yang ditunjukkan atau objek nya dalam memahami sebuah kasus.1 Dalam hal ini bisa disampaikan  munculnya virus corona berasal dari provinsi Wuhan, China yang mengancam  kesehatan internasional. 

2. Daya Kritis Fenomena Covid-19 

Seperti pembahasan di atas, informasi diluncurkan vaksin Covid-19 pascakebenaran memiliki arah yang berlawanan dengan tradisi filsafat. Di satu  sisi, informasi diluncurkan vaksin Covid-19 pascakebenaran mengutamakan terbentuknya opini masyarakat dengan mengeksploitasi sisi emosi dan keyakinan  personal publik untuk mencapai target menghadapi wabah coronan tanpa  mengindahkan kebenaran faktual. Langkah awal yang perlu kita peroleh

pengetahuan tentang virus corona yaitu pemberitaan/ berita yang benar.2Tetapi  ketika pertanyaan tersebut dijawab bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman,  muncul pertanyaan bagaimana memperoleh pengalaman tersebut.3 Dalam pribadi  manusia, manakah antara akal atau panca indera yang dapat dijadikan sumber  utama pengetahuan manusia? Selain cakupan pengetahuan dan validitasnya,  pertanyaan yang mendasar mengenai sumber pengetahuan menjadi salah satu  topik, dalam salah satu cabang filsafat, yaitu epistemologi.4 Gagasan dari pasca kebenaran mencoba menjaga pikiran dari pertukaran kebenaran, untuk dijadikan  kebenaran yang tersembunyi. Secara umum bercampur pikiran akan dipengaruhi  oleh perasaan bahwa kebenaran adalah sering berakhir pada kekecewaan atau  kebohongan (penipuan).5

Epistemologi (filsafat pengetahuan) adalah merupakan cabang filsafat  yang membahas, mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope  pengetahuan, pengandaian-pengandaian dasarnya, serta pertanggungjawaban atas  pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.6Pada masa Immanuel Kant (1724-1804 M), berusaha mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan  filsafatnya yang dinamakan Kristisme. Untuk itulah Kant menulis buku yang  berjudul Kritik der Reinen Vernunft dan Kritik der Uteilskraft. Menurut kant,  dalam pengenalan indrawi terdapat dua bentuk apriori, yaitu ruang dan waktu.7

The Correspondence Theory of Truth bahwa kunci dari kebenara ialah  sebuah hubungan antara dalil dan kenyataan.8Jika kebenaran berdasarkan realita  maka perhatian manusia tidak boleh bergeser dari pertanyaan ontologis mengenai  apa itu realitas ke arah yang lebih epistemologis dengan mempertanyakan, bagaimana pengetahuan tentang realitas bisa diakses oleh manusia? Gagasan  tersebut didasarkan pada tiga pertanyaan yaitu. Pertama, apa yang saya dapat  ketahui? Kedua, apa yang harus saya lakukan? Ketiga, apa yang boleh saya  harapkan?9 Kebenaran beralasan ilmiah dan meyakinkan untuk di konsumsip  publik, tujuannya untuk membentuk kesesuaian, penegasan atau mufakat yang  dibangun dan disampaikan untuk diikuti agar terjadinya kontruksi dari sebuah  kebenaran atau kedustaan.10 

DAFTAR PUSTAKA 

Referensi Dari Buku : 

1. Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad saebani, Pilsafat umum dari  metologi sampai teofilosofi,(bandung: Pustaka Setia, 2008) 

Referensi Dari Jurnal: 

1. Abdul Aziz Faradi (2019), Teori-Teori Kebenaran Dalam Filsafat,  Urgensi dan Signifikansinya dalam Upaya Pemberantasan Hoaks,  Jurnal Ilmu–Ilmu Ushuluddin Vol. 07, No.01, 97-114 

2. Diah Handayani dkk (2020), “Penyakit Virus Corona 2019” Jurnal  Respirologi Indonesia,Vol. 40, No. 2, 119-129 3. Eman Supriatna, (2020), Wabah Corona Virus Disease Covid 19  Dalam Pandangan Islam, Jurnal Sosial & Budaya Syar-I vol. 7 no. 6  555-546

1 Yael Brahm. Philosophy of Post-Truth (INSS) h. 1

2 Yael Brahm. Philosophy of Post-Truth (INSS) h. 3 

3 Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad saebani, Pilsafat umum dari metologi sampai  teofilosofi,(bandung: Pustaka Setia, 2008), h.25 

4 Abdul Aziz Faradi, Teori-Teori Kebenaran Dalam Filsafat, Urgensi dan  Signifikansinya dalam Upaya Pemberantasan Hoaks, Jurnal Ilmu–Ilmu Ushuluddin Vol. 07,  No.01, 2019, h.102 5 Angela Condello and Tiziana Andina. Post-Tuth, Philosophy And Law (Routledge) h. 13 6Ibid, h. 102

8 Yael Brahm. Philosophy of Post-Truth (INSS) h. 6 

9 Atang Abdul hakim…, h. 281

10 Angela Condello … h. 16

Similar Posts